Memakai baju batik bagi keturunan Embah Jaya Perkasa dilarang
sekali bagi keturunannya saat berziarah ke makamnya di Gunung Rengganis,
Sumedang, Jawa Barat.
Konon hal ini terkait sumpah yang diucapkan Embah Jaya
Perkasa saat menghilang tanpa bekas di Gunung tersebut usai menghadap sang Raja
Prabu Geusan Ulun.
Embah Jaya Perkasa atau Sanghiyang Hawu adalah salah satu
Patih Kerajaan Sumedang Larang saat diperintah Raden Angka Wijaya atau lebih
dikenal sebagai Prabu Geusan Ulun.
![]() |
| Foto Istimewa |
Sebelumnya Sanghiyang Hawu adalah Patih di Kerajaan Pakuan
Padjajaran saat dipimpin Prabu Nilakendra. Namun saat itu di Pakuan Padjajaran
sedang ditimpa kekacauan karena mendapat serangan dari Kerajaan Banten yang
dipimpin Syeh Maulana Yusuf
Menuju Cirebon
Sehingga Prabu Nilakendra berangkat meninggalkan kerajaan.
Hanya sebelum berangkat Prabu Nilakendra memanggil dulu empat patih kepercayaan
kerajaan (Kandaga Lente) yaitu Sanghiyang Hawu (Embah Jaya Perkasa); Bantara
Dipatiwijaya (Embah Nanganan);
Sanghiyang Kondang Hapa; Batara Pancer Buana (Embah Terong Peot).
Amanat Prabu Nilakendra memberikan mahkota kerajaan kepada
Prabu Geusan Ulun Raja Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan
Padjajaran. Pada akhirnya ke empat
Kandaga Lente tersebut datang ke Sumedang Larang untuk menyampaikan amanat
Prabu Nilakendra, yaitu untuk berbakti kepada Kerajaan Sumedang Larang (Geusan
Ulun) sebagai penerus Padjajaran.
Dengan adanya penyerahan mahkota dan penyertaan berbakti
dari Raja Padjajaran, maka seluruh wilayah kekuasaan Padjajaran dikuasai oleh
Sumedang Larang. Sehingga Embah Jaya Perkasa dan ke tiga saudaranya diangkat
sebagai patih di Sumedang Larang.
Konon waktu itu di daerah Sumedang sudah banyak masyarakat
yang menganut agama Islam. Karenanya sang raja karena masih merasa banyak
kekurangan di bidang Agama Islam. Prabu Geusan Ulun pun berangkat ke Demak
untuk belajar agama Islam.
Keberangkatan Prabu Geusan Ulun diiringi ke empat patih yang
setia tersebut. Usai berguru di Demak hingga akhirnya Prabu Geusan Ulun pulang,
sebelum sampai ke Sumedang Larang dia mampir dulu ke Cirebon untuk
bersilaturahmi dengan Pangeran Giri Laya (Raja Cirebon).
Pangeran Giri Laya menerima kedatangan Prabu Geusan Ulun dan
dirinya masih satu keturunan dari Sunan Gunung Jati. Rakyat dan keluarga
kerajaan di Cirebon semua merasa segan bahkan memuji kepada sang Prabu Geusan
Ulun.
Ini dikarenakan sikap Prabu yang ramah, masyarakat juga
ditambah dengan ketampanan Sang Prabu yang tiada duanya. Ketika Geusan Ulun
memasuki pendapa, para menak dan Pangeran Cirebon terpesona melihat Raja
Sumedang Larang. Badannya tinggi besar, wajahnya tampan, hidungnya mancung,
keningnya bercahaya, dan sikapnya ramah tamah.
Permaisuri terpukau
Ketika Pangeran Geusan Ulun bertukar pikiran dengan Pangeran
Girilaya, permaisuri Pangeran Girilaya, Ratu Harisbaya menyajikan santapan.
Ketika melihat Prabu Geusan Ulun, permaisuri itu terpukau dan jatuh hati dengan
ketampanan Prabu Geusan.
Kemudian Prabu Geusan Ulun bermalam di masjid dengan alasan
hendak menenangkan pikiran. Namun pada suatu hari, ketika Prabu Geusan Ulun
tidur di masjid, pada tengah malam terdengar bunyi langkah orang yang
mendekatinya.
Ketika sudah dekat ternyata orang itu adalah Ratu Harisbaya.
Prabu Geusan Ulun sangat terkejut, seluruh badannya menggigil ketakutan,
pikirannya gelap tidak tahu apa yang harus diperbuat. Segeralah dia memanggil
keempat patihnya, baginda mengajak berunding bagaimana caranya menasihati Ratu
Harisbaya yang sudah tergila-gila olehnya, yang akan bunuh diri jika tidak
terlaksana.
Prabu Geusan Ulun sangat bingung menghadapi perkara yang
sangat sulit itu. Namun menurut saran Embah Jaya Perkasa, Ratu Harisbaya lebih
baik dibawa ke Sumedang Larang sebab jika dibawa atau tidak tetap akan
menimbulkan keributan.
Sehingga malam itu juga Prabu Geusan Ulun, keempat
pengiringnya, dan Ratu Harisbaya berangkat ke Sumedang Larang tanpa pamit lebih
dulu kepada Pangeran Girilaya.
Keesokan harinya di Keraton Cirebon gempar bahwa Ratu
Harisbaya hilang meninggalkan Pangeran Gerilaya. Dicarinya ke masjid, teryata
tamu pun sudah tidak ada.
Segeralah Pangeran Girilaya membentuk pasukan untuk mengejar
dan menyerang Prabu Geusan Ulun. Dalam pengejaran di suatu tempat tercium bau
wangi pakaian Ratu Harisbaya.
Tempat itu kemudian disebut Darmawangi. Pasukan tentara
Cirebon bersiap - siap hendak menyergap Prabu Geusan Ulun. Terjadilah
pertempuran yang seru antara ke empat pengiring dengan pasukan Cirebon. Namun
pasukan Cirebon diamuk oleh Embah Jaya Perkasa sehingga lari tunggang langgang.
Prabu Geusan Ulun, keempat pengiringnya, dan Putri Harisbaya
sudah tiba di Kutamaya. Ratu Harisbaya ditempatkan di sebuah tempat yang dijaga
ketat oleh hulubalang. Baginda Prabu Geusan Ulun tidak berani dekat-dekat
apalagi memegang tangannya sebab Putri Harisbaya belum menjadi istri, belum
diceraikan oleh Pangeran Girilaya.
Pada suatu waktu terbetiklah berita oleh Embah Jaya Perkasa
bahwa Cirebon akan menyerang Sumedang Larang. Berita itu segera disampaikan
kepada ketiga temannya dan kemudian keempat orang itu menghadap Prabu Geusan
Ulun untuk dirundingkan.
Dalam perundingan diputuskan bahwa tentara Cirebon sebelum
menyerang harus dihadang di perbatasan jangan sampai Sumedang Larang dijadikan
medan pertempuran. Embah Jaya Perkasa berkata kepada Prabu Geusan Ulun.
"Paduka yang mulia!. Hamba berempat sanggup menghadap
musuh. Gusti jangan khawatir dan jangan gentar, diam saja di keraton. Hanya
hamba akan memberi tanda yaitu hamba akan menanamkan pohon hanjuangi) di sudut
alun - alun. Nanti, jika perang sudah selesai, lihatlah! Jika pohon hanjuang
itu rontok daunnya suatu tanda bahwa hamba gugur di medan perang, tetapi jika
pohon itu tetap segar dan tumbuh subur itu suatu tanda bahwa hamba unggul di
medan perang,".
Tanam Hanjuang
Setelah berkata demikian Embah Jaya Perkasa segera
menanamkan pohon hanjuang di sudut alun-alun. Pohon hanjuang itu tumbuh dengan
suburnya bagai ditanam sudah beberapa minggu saja.
Selesai menanamkan pohon hanjuang, berangkatlah keempat
andalan negara itu ke medan perang, mempertaruhkan nyawanya.
Sesampainya di perbatasan, terlihat tentara Cirebon sedang
berjalan berbaris menuju Sumedang Larang.
Melihat barisan tentara Cirebon yang sangat panjang itu
segeralah keempat patih bersujud memohon perlindungan kepada Yang Maha Agung.
Terjadilah perang yang seru sekali.
Berkat kesaktian keempat patih itu tentara Cirebon banyak
yang tewas. Embah Jaya Perkasa mengamuk di tengah-tengah barisan tentara
Cirebon, terus mengobrak-abrik. Mayat bergelimpangan bertumpang tindih tak
terhitung banyaknya sehingga beberapa tentara Cirebon yang masih hidup lari
tunggang-langgang.
Tentara Cirebon yang masih hidup itu terus dikejar oleh
keempat patih. Embah Jaya Perkasa yang telah banyak membunuh, makin
bersemangat, dia terus mengejarnya, makin lama makin jauh dari ketiga temannya.
Setelah sekian lamanya Embah Jaya Perkasa tidak kelihatan
kembali. Karena tidak kunjung datang, ketiga patih lainnya pulang ke Sumedang
Larang akan mengabarkan keadaan Embah Jaya Perkasa kepada Prabu Geusan Ulun.
Mendengar berita hilangnya Embah Jaya Perkosa, Prabu Geusan Ulun bingung, tidak
tahu apa yang harus dikerjakan. Akhirnya tanpa melihat pohon hanjuang di sudut
alun-alun, sang prabu
memerintahkan agar semua rakyat yang mau mengabdi segera
meninggalkan Sumedang Larang.
Mendengar titah rajanya itu segeralah rakyat mengikuti
rajanya dengan membawa apa saja yang dapat dibawanya. Rombongan Prabu Geusan
Ulun sudah sampai di Batugara. Di sana permaisuri baginda, yang bernama Nyi Mas
Gedeng Waru, sakit keras sampai wafatnya.
Karena Batugara tidak cocok untuk keraton kemudian terus
menuju lereng sebuah gunung, di sana dapat melihat pemandangan ke mana-mana.
Sesudah beristirahat, lereng gunung itu dibuka dan didirikanlah keraton serta
alun-alun. Bekas alun-alun itu sekarang masih ada disebut Dayeuhluhur.
Ngahiang
Syahdan, Embah Jaya Perkasa yang mengejar-ngejar sisa
tentara Cirebon, kemudian kembali ke tempat ketiga patih menunggu. Ketika tiba
di sana ketiganya tidak ada, dicarinya ke mana-mana tidak dijumpainya, kemudian
dia menuju Kutamaya.
Setiba di sana seorang pun tidak ditemukannya, terus dia
lari ke alun-alun melihat pohon hanjuang yang ditanamnya dahulu. Ternyata pohon
itu tumbuh subur, daunnya banyak.
Dengan demikian dia bertambah marah. Ketika berpaling ke
sebelah timur terlihat olehnya asap mengepul-ngepul di lereng gunung. Dengan
mengentakkan kakinya keras-keras ke bumi, seketika itu juga dia sudah berdiri,
di lereng gunung itu.
Gunung itu sekarang disebut Gunung Pangadegan. Tidak lama
Embah Jaya Perkasa sudah berhadapan dengan Prabu Geusan Ulun, dia menyembah
kemudian berkata.
"Gusti! Mengapa kerajaan Gusti tinggalkan? Tidaklah
Gusti percaya kepada hamba?" Prabu Geusan Ulun bertitah dengan suara
perlahan-lahan. "Oh, Eyang! Eyanglah tulang punggung Kerajaan Sumedang
Larang. Kami merasa gugup setelah mendengar berita bahwa Eyang tewas dalam
medan perang. Kami ingin menyelamatkan rakyat maka kami pergi meninggalkan
Kutamaya. Dari sini terlihat jelas ke mana-mana dan musuh pun dari jauh sudah
terlihat,". Kemudian Embah Jaya Perkasa berkata," Mengapa Gusti tidak
melihat tanda yaitu pohon hanjuang yang hamba tanam?,".
"Maafkan kami Eyang. Ketika itu kami sama sekali
lupa." "Dari siapa Gusti mendengar kabar bahwa hamba telah
tewas,?". "Dari Embah Nanganan," kata sang Prabu. Mendengar
jawaban Prabu Geusan Ulun demikian itu, Embah Jaya Perkasa menjadi - jadilah
marahnya. Ketika itu juga Embah Nanganan ditikamnya sampai meninggal dunia.
Adapun temannya yang dua orang lagi yaitu Embah Kondang Hapa
dan Embah Batara Pencar Buana ditangkapnya dan dilemparkan melampaui gunung.
Embah Kondang Hapa jatuh di Citengah.
Sampai sekarang penduduk Citengah masih percaya bahwa tidak
boleh mengucapkan kata "hapa" sebab roh Embah Kondang Hapa menitis
kepada yang mengucapkannya.
Makamnya sampai sekarang masih ada di Citengah. Embah Batara
Pencar Buana atau Embah Terong Peot jatuhnya di daerah Cibungur. Konon, setelah
ketiga temannya menjadi korban kemarahannya, Embah Jaya Perkasa mengucapkan
kata-kata.
"Kalau ada keturunan di Kutamaya sejak saat ini
janganlah mau mengabdi kepada menak sebab kerja berat tetapi tidak terpakai.
Besok lusa jika aku dipanggil oleh Yang Maha Agung, mayatku janganlah sekali -
kali dibaringkan, tetapi harus didudukkan. Jika ada anak cucuku atau siapa saja
yang hendak menengok kuburanku janganlah memakai kain batik (dari Jawa),".
Setelah mengucapkan kata-kata itu Embah Jaya Perkasa terus ke
Gunung Rengganis, di puncak gunung itu dia berdiri, kemudian menghilang,
menghilang tanpa bekas. Di atas gunung tempat berdirinya Embah Jaya Perkasa
kemudian ditemukan batu yang berdiri sampai sekarang batu itu menjadi batu
keramat.
Adapun Prabu Geusan Ulun sepeninggal keempat patihnya itu
tidak pindah ke mana-mana, tetap mengolah negara Dayeuh luhur sampai wafatnya.

0 Comments