Di sekitar pusat Kota Sumedang, Kabupaten Sumedang
Jawa Barat, setidaknya ada empat benteng pertahanan yang dibangun Belanda pada
kisaran tahun 1917-1920. Tiga benteng diketahui lama keberadaannya, sementara
yang satu lagi diketahui baru-baru ini –dan masih dalam penelitian para ahli.
Tiga benteng yang keberadaannya diketahui cukup lama
dan sudah tercatat dalam sejarah, adalah benteng pertahanan Gunung Kunci,
Gunung Palasari dan Gunung Gadung. Ketiganya berada di pusat kota, dan seakan
mengelilingi kompleks Keraton Sumedang, di dekat alun-alun Sumedang.
Benteng Gunung Kunci, berada di Dusun Panjunan
Kelurahan Kotakulon Kecamatan Sumedang Selatan. Bertitimangsa (tanda tahun) tahun 1917 pada masa Gubernur Jendral Van
Limburg Stirum, benteng Gunung Kunci dibangun kokoh sekali.
Dilihat dari ruangan yang ada, dipastikan gunung
ini, dulunya pernah digunakan untuk hunian para perwira dan prajuritnya. Gunung
ini pun, dipastikan jadi tempat strategis untuk memantau pergerakan prajurit
atau petugas keamanan keraton. Hal itu ditandai dengan adanya tempat meriam
yang salahsatunya diarahkan ke Keraton
Sumedang.
Benteng Gunung Palasari, berada di sebelah barat
Gunung Kunci, atau terletak di sebelah barat alun-alun Sumedang, tepatnya di
Gunung Sindang Palay Desa Pasanggrahan Kecamatan Sumedang Selatan, atay di
kaki Gunung Palasari.
Di lokasi yang dibangun antara tahun 1913-1917 ini,
terdapat delapan bangunan terbuat dari beton dalam posisi melingkar.
Bangunannya sendiri terdiri dari 27 ruangan berpintu, 25 jendela dan puluhan
ventilasi. Menurut para ahli, bangunan ini berfungsi sebagai penyimpanan mesiu.
Benteng Gunung Gadung terletak di Kampung Gunung
Gadung Desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan atau di sebelah selatan kota
Sumedang. Di benteng ini, ada tiga bangunan yang berdekatan dan dipisahkan
jalan. Arah tiga bangunan itu beda-beda. Yang di sebelah utara menghadap ke
sebelah barat, mengarah ke pusat kota, sementara dua bangunan lain menghadap ke
kawasan Pasir Laja dan Dermaga.
Sementara benteng terakhir yang diketemukan belum
lama dan hingga kini masih dalam penelitian para ahli, adalah benteng yang oleh
warga setempat disebut Benteng Batre, terletak di Desa Mekarjaya, Sumedang
Utara.
Seorang peneliti, Oktaviandi, beberapa waktu lalu
menyebutkan bahwa berdasar kajian sementara, benteng tersebut merupakan
peninggalan Belanda pada abad ke 20. Pendiriannya diperkirakan satu masa dengan
pendirian Benteng Gunung Kunci, yakni
tahun 1917-1920. Namun bagaimana hasil kajian sebenarnya, hingga saat ini,
penulis belum mengetahuinya.
Situs yang disebut warga Benteng “Batre” tersebut
ditemukan warga yang sedang menggali tanah di Blok Pangaduan Hayam di
ketinggian 750 mdpl dan berada di tanah kas Desa Mekarjaya seluas 20
hektar. Luas situsnya sendiri,
diperkirakan mencapai 1,5 hektar.
Selain membangun benteng, Belanda juga diketahui
membangun tangsi, yang kini menjadi markas Kodim 0610 Sumedang, yang letaknya
tidak terlalu jauh dari Gunung Palasari dan Gunung Kunci.
Lalu, mengapa Belanda membangun benteng pertahanan
di sekitar pusat Kota Sumedang? Apakah karena Belanda tidak percaya kepada
kesetiaan Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmadja yang juga
merupakan putra Pangeran Suria Kusumah Adinata atau Pangeran Sugih?
Penasaran? Jeda dulu ya, kapan-kapan disambung lagi
di Kompasiana tercinta.
Catatan: tulisan ini dimuat juga di Kompasia dengan link ini https://www.kompasiana.com/permanas/5b9f482fab12ae039473b205/empat-benteng-ini-sengaja-dibangun-belanda-di-sumedang***
0 Comments