Tinggi muka air Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa
Barat, saat ini terus menyusut akibat
hujan tak kunjung turun selama beberapa bulan terakhir. Data terakhir, tinggi muka air waduk ini,
sudah kurang dari 245.00 mdpl dan mengakibatkan sejumlah reruntuhan bangunan
bermunculan kembali.
Rendahnya tinggi muka air waduk ini, dipastikan akan terus
menyusut sepanjang debit air yang masuk ke perairan terus berkurang, akibat
musim kemarau.
“Saat ini, debit air yang masuk hanya 12 meter kubik per
detik. Kemungkinan, debit air akan terus berkurang kalau tidak ada hujan,” ujar
seorang staf Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk, Yuyu Wahyudin kepada
penulis. Sementara debit air yang keluar dari waduk lebih besar lagi, yakni
sekitar 65.25 meter kubik per detik.
Menurut Yuyu , jika hujan tidak kunjung turun dalam waktu
dekat, tinggi muka air waduk diperkirakan akan ada pada posisi elv 239 mpdl
dari posisi sekarang, elv 245, 10 mdpl. Luas genangannya pun dipastikan akan
berkurang banyak, dari luas genangan
sekarang, sekitar 2,666.920 hektar atau 67.47 persen.
Lalu, apa yang bisa dilakukan BBWS Citanduy? Tidak ada,
kecuali menunggu hujan turun. Mengurangi debit air keluar juga tidak bisa
dilakukan karena yang dikeluarkan sekarang sudah sesuai dengan kebutuhan air di
hilir bendungan sebesar 65 s/d 70 m3/detik , untuk berbagai kebutuhan, baik
irigasi maupun kebutuhan air baku.
Ditanami padi
Namun terlepas dari risaunya BBWS Cimanuk Cisanggarung
karena debit waduk menyusut, warga setempat ternyata banyak yang bersyukur,
senang.
“Kami sekarang bisa menanam padi atau palawija di pinggir
waduk yang sudah tak berair tapi tanahnya masih basah,” kata Nana, seorang
warga Ciseuma, Jatigede, kepada penulis.
Dan memang, ketika penulis jalan-jalan ke waduk tersebut,
tanaman padi dan palawija seperti jagung dan ubi, tambak tumbuh di beberapa
areal waduk yang sudah tidak berair. Sebagian dari tanaman tersebut bahkan ada
yang tinggal menunggu waktu untuk
dipanen.
Menurut Nana, warga
Ciseuma dan kampung lainnya yang ada di sekitar waduk, bukan hanya seorang dua
orang yang memanfaatkan tepi waduk untuk bercocok tanam. “Selain saya, banyak
warga lainnya. Warga memanfaatkan Jatigede untuk bercocok tanam ini hampir
setiap kemarau saat air waduk menyusut,” katanya.
Selain ada yang senang bisa bercocok tanam, ada juga yang
senang karena bisa memancing ikan lebih
ke tengah, hingga hasilnya menggembirakan.
0 Comments