Dalam tulisan terdahulu. “Empat Benteng Ini Sengaja Dibangun
Belanda di Sumedang”, disebutkan bahwa Belanda membangun empat benteng pertahanan di Sumedang. Empat
benteng dimaksud adalah Benteng Gunung Kunci, Palasari, Gunung Gadung, dan
Benteng Batre yang baru diketemukan tahun ini.
Sebelumnya Belanda pun membangun sebuah tangsi di pinggir
jalan Pos Anyer Panarukan di sekitar pusat kota Tangsi tersebut belakangan
dijadikan Markas Kodim 0610, hingga saat ini. Khusus Benteng Gunung Palasari
dan Gunung Kunci, relatif dekat dengan tangsi ini.
Keempat benteng tersebut, dibangun Belanda pada kisaran
tahun 1917-1920, saat Sumedang dipimpin Pangeran Aria Suria Atmadja, pemimpin
bijaksana dan sangat memperhatikan kesejahteraan dan kemajuan rakyatnya.
Lalu, mengapa Belanda membangun benteng pertahanan di
sekitar pusat Kota Sumedang? Apakah ada kaitannya dengan Pangeran Aria Suria
Atmadja yang merupakan Bupati terakhir trah Pangeran Sumedang karena tidak memiliki
putra laki-laki?
Jawabannya, kalau dilihat sepintas memang kurang masuk
akal. Betapa tidak. Pangeran Aria Suria
Atmadja ditetapkan jadi penguasa Sumedang oleh Belanda. Dengan demikian, secara logika, sepatutnya Pangeran Aria patuh
dan tunduk kepada kolonial, apapun yang terjadi. Namun Pangeran Panungtung ini ternyata tidak selalu
manut kepada kolonial.
Sebagaimana ditulis Lasmiyati, dalam “Ditioeng Memeh Hoedjan, Pemikiran Panggeran Aria Suria Atmadja dalam
Memajukan Pemuda Pribumi di Sumedang (1800-1921) yang dimuat di Patanjala Vol 6 No 2 Juni 2014, selama
memimpin Sumedang, Pangeran ini bukan
hanya memerhatikan masalah kesejahteraan masyarakat semata. Ia juga mencoba
memajukan pemudanya untuk dapat berlatih militer dan mengangkat senjata, agar
suatu saat nanti bisa merebut kemerdekaan dari penjajah.
Keinginannya tersebut ia tuangkan dalam tulisan berjudul Indie Weerbaar (Ketahanan Hindia) dan
disampaikan kepada pemerintah kolonial. Menurut Lasmiyati, bagi Pangeran Aria Soeria Atmadja, keinginan
tadi tidak bisa dilepaskan dari pandangannya soal pemuda yang suatu saat nanti
harus merebut kemerdekaan.
Akan tetapi, langkah Pangeran Sumedang tersebut bisa dibaca
Belanda. Dengan begitu, praktis, usulan Pangeran tidak disetujui. Alih-alih
disetujui, Belanda mencurigai Pangeran Aria Suria Atmadja.
Belanda khawatir, jika usulan tersebut disetujui, pemuda pribumi malah akan
berontak, sehingga terjadilah apa yang disebut senjata makan tuan.
Barangkali karena itulah, Belanda membangun benteng pertahanan
sekaligus untuk mengawasi gerak-gerik pemuda Sumedang dan petugas keamanan
keraton. Di atas benteng yang dibuatnya, terutama Benteng Gunung Kunci dan
Gunung Palasari, Belanda bisa dengan tiba-tiba melontarkan mesiu dari meriam,
ke arah keraton Sumedang.
Namun penulis belum menemukan catatan sejarah, apakah meriam
yang diarahkan ke Keraton Sumedang itu pernah ditembakkan atau tidak. Sejauh
ini, yang terbaca penulis, pertempuran antara Belanda dan tentara pribumi kala
itu, terjadi di pinggiran kota, atau jauh dari pusat Kota Sumedang.***
Catatan: tulisan ini dimuat juda di Kompasiana beberapa waktu lalu.

0 Comments