Kabupaten Sumedang Barat Mungkinkah Terbentuk?


Terus mengemuka. Begitulah wacana pembentukan Kabupaten Sumedang Barat. Dukungan dari sejumlah anggota DPRD Sumedang dan tokoh masyarakat pun belakangan terus menguat, seperti dilansir HU Pikiran Rakyat, baru-baru ini,

”Saya akan kencang memperjuangkan pembentukan Kabupaten Sumedang Barat. Meski belum ada pengkajian resmi, wilayah Sumedang Barat sudah mampu dan layak berdiri sendiri berpisah dengan Kabupaten Sumedang sebagai daerah induk,” kata Anggota DPRD Kab. Sumedang dari Daerah Pemilihan I (Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung), Deden Doni Herlansyah dari Fraksi  Gerindra di gedung DPRD Kabupaten Sumedang.

Menurut dia, ada beberapa  pertimbangan yang melatarbelakangi wacana  pembentukan Kabupaten Sumedang Barat. Hal itu, diantaranya dari sisi kontribusi PAD  Sumedang Barat terhadap  Kabupaten Sumedang, dinilai  yang terbesar.  Dari PAD Kab. Sumedang tahun 2016 Rp 260 miliar, 40% atau Rp 104 miliar diantaranya disumbangkan dari 6 kecamatan di wilayah Sumedang Barat, yakni  Jatinangor, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasari, Pamulihan dan Rancakalong.

“Bahkan dari 6 kecamatan tersebut, Kecamatan Jatinangor menyumbangkan PAD terbesar.  PAD dari Kecamatan Jatinangor saja,  mencapai 30%  atau senilai Rp 78 miliar dari total PAD Kab. Sumedang.  Seandainya Kabupaten Sumedang Barat terbentuk, sudah mampu mandiri,” ujar Deden Doni.

Pertimbangan lainnya, lanjut  dia, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumedang Barat terus berkembang pesat. Contoh di Kec. Jatinangor, sudah memiliki kawasan industri termasuk di wilayah Kecamatan Cimanggung, pusat pendidikan  perguruan tinggi favorit, memiliki sejumlah apartemen serta daerah perkantoran dan jasa.

Di sektor pertanian dan perkebunan, ada Kecamatan Tanjungsari dengan penghasil tembakau berkualitas. Di Kecamatan Suksari sentra sayuran dan Kecamatan Rancakalong sentra kopi dan produk perkebunan lainnya. Begitupula dengan Kecamatan Pamulihan sebagai sentra ubi cileumbu.  “Jadi, begitu besar potensi sumber daya alam di wilayah Sumedang Barat ini,” tuturnya yang juga Anggota Komisi D DPRD Kab. Sumedang.


Akan tetapi,  kendati  PAD yang disumbangkan terhadap  Kabupaten Sumedang  sangat besat namun perhatian Pemkab Sumedang sangat kurang.  Bahkan cenderung disamaratakan dengan kecamatan lainnya yang kontribusi PAD-nya rendah. “Adil itu bukan berarti sama rata, tapi disesuaikan  dengan kebutuhannya. Sebagai penyumbang PAD terbesar, mestinya 6 kecamatan ini diberikan porsi lebih dari segi pembangunan dan aspek lainnya,” tuturnya.

Namun demikian, Deden Doni tak menampik pembentukan Kabupaten Sumedang Barat tidak akan disetujui atau bahkan akan ditolak oleh Kabupaten Sumedang sebagai kabupaten induk.  Sebab, jika Sumedang Barat memisahkan diri dari Kab. Sumedang,  kabupaten induk  akan lumpuh karena PAD-nya akan merosot tajam.  “Saya mengerti dan paham dengan kondisi itu. Oleh karena itu, wacana pembentukan Kabupaten Sumedang Barat ini tidak sekarang. Akan tetapi,  nanti apabila kawasan industri sudah dibangun di Kecamatan Ujungjaya supaya kabupaten induk tetap bisa hidup,” ujarnya.

Belum waktunya
Lalu bagaimana menurut Bupati Sumedang Eka Setiawan? Ketika dikonfirmasi melalui telefon, Bupati mengatakan bahwa wacana pembentukan Kabupaten Sumedang Barat memang sudah dari dulu. Akan tetapi, untuk saat ini belum waktunya. Apalagi  pemerintah pusat, sebelumnya mengeluarkan  kebijakan  menunda pemekaran daerah. Sebab pengalaman di daerah lain, ternyata dengan pemekaran justru tidak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Oleh karena itu, wacana pembentukan Kabupaten Sumedang Barat itu perlu dikaji ulang. Meski di wilayah barat perekomiannya cukup kuat,   tidak berarti ketika dimekarkan masyarakatnya bisa sejahtera,” ujar Eka.


Namun demikian, ia setuju jika 6 kecamatan di wilayah Sumedang Barat sebagai penyumbang PAD terbesar, diberikan perhatian dan porsi lebih dalam pembangunan dan  aspek lainnya. “Kami nanti akan mempertimbangkan dan mengkaji  untuk memberikan perhatian lebih untuk pembangunan Sumedang Barat. Sebab,  pertumbuhan ekonominya cukup pesat, seiring pesatnya pembangunan di Kota Bandung,” katanya. (www.pikiran-rakyat.com/admin)

0 Comments

Arsip