Parona. Tembakau atau bako dalam bahasa Sunda, memiliki sejarah
cukup panjang di Sumedang. Menurut keterangan sejumlah orang tua, pada jaman
Belanda dulu, warga di Sumedang khususnya di Tanjungsari, banyak yang menanam
dan membudidayakan tanaman tembakau yang disebut bako mole. Banyaknya warga yang menanam tembakau
tersebut karena kebetulan salahsatu bupati Sumedang waktu itu, yakni Pangeran
Sugih mendukung sekali upaya warga menanam tembakau.
Wilayah di Tanjungsari yang diketahui memiliki kebiasaan
menanam dan mengolah tanaman tembakau sejak lama hingga sekarang antara lain
Cijambu, Pasigaran, dan Sukasari. Khusus
di Sukasari, sekarang bahkan ada sebuah tempat yang dinamakan Kampung Bako,
karena mayoritas warganya mencari penghidupan dari bertaman tembakau dan
mengolahnya.
Pabrik Roko
Sebuah keterangan menyebutkan, di Tanjungsari, tepatnya
di Desa Gudang, pada tahun 1950-an juga pernah berdiri sebuah pabrik rokok yang
mereknya antara lain “Parona”. Konon,
rokok merek Parona tersebut sempat terkenal juga di Tanah Air. Namun karena
sesuatu hal, pabrik tersebut bangkrut, sehingga produksi “Parona” pun terhenti.
Penulis, yang kebetulan lahir di Desa Gudang, suatu kali ketika kecil pernah
menerima kertas yang digunakan bungkus roko “Parona” tersebut dari seseorang.
Sayang, saat itu bungkus roko tersebut tak sengaja dibuang. Hingga sekarang, benteng
bekas pabrik rokok yang juga dikenal dengan nama Parona tersebut, masih berdiri
di Desa Gudang, tepat di pinggir Jalan Raya Gudang-Tanjungsari sebelah kanan
(dari arahUNWIN).
Tidak diketahui secara pasti mengapa pabrik tersebut
bangkrut. Padahal, Tanjungsari seiring dengan berkembangnya waktu, terus
berkembang sebagai tempat tembakau. Menurut sebuahpenelitian dari Fakultas
Pertanian Unpad, di Tanjungsari tepatnya di Desa Mariuk Distrik Tanjungsari
yang sekarang bernama Margaluyu pernah berdiri Pasar Tembakau yang terkenal dengan bako molenya.
Penjualan yang dilakukan waktu itu menggunakan oblok atau pikulan, dengan
sebutan Pasar Omprongan. Pedagangnya datang dari berbagai tempat antara lain
Cigasti, Cicalengka, Cijambu dan Majalaya.
Setelah Indonesia merdeka, sebuah organisasi yang
menamakan Gerakan Tani Indonesia memindahkan pasar bako tersebut ke
daerahLanjung Desa Tanjungsari. Tahun
1965, pasar tersebut pindah lagi ke Tanjungsari
ke sekitar Alun-Alun Tanjungsari. Tahun 2002, pasar tersebut pindah
lagi ke pasar baru yang dan mendapat
nama khusus Pusat Agrobisnis Tembakau Jawa Barat karena menjadi pasar tembakau
satu-satunya di Jawa Barat. Angka milyaran rupiah berputar di setiap hari
pasaran tembakau, yakni Selasa dan Sabtu karena pedagang dari berbagai daerah
biasanya membawa tembakau olahannya ke pasar ini.

0 Comments