Belanda, Sarekat. Bioskop Pasifik adalah salahsatu bioskop yang pernah berdiri
di Kabupaten Sumedang, selain Bioskop Diana. Berbeda dari Bioskop Diana,
Bioskop Pasifik termasuk bioskop tua. Menurut beberapa sumber, bioskop ini
dibangun sejak tahun 1020-an oleh bangsawan Belanda bernama Boesee dan diresmikan oleh Pangeran
Soeria Soemantri.
Dalam perkembangannya, bioskop ini pernah berganti nama
beberapa kali. Setelah dibangun dengan nama Bioskop Pasifik, kemudian berganti
nama menjadi Bioskop Sakura pada masa penjajahan Jepang, lalu berubah menjadi
Bioskop Tjahaja, Bioskop Kutamaya, dan
berganti lagi Bioskop Pasifik. Belakangan, setelah tidak berfungsi lagi sebagai
tempat pemutaran film, bangunan tua ini
dinamakan Pasifik Hariring.
Pada tahun 1923-an, ada peristiwa sejarah menyangkut bioskop
ini.
Sama dengan di daerah lain, di Sumedang juga pernah terjadi
gejolak politik lokal, yakni antara Sarekat Rakyat yang berdiri lebih dulu dan
Sarekat Hijau yang berdiri belakangan. Sarekat Rayat, dalam perkembangannya memiliki
tingkat militansi yang cukup tinggi dan mengembangkan sikap kasar dan radikal terutama
kepada Pemerintah, Sarekat Islam, Paguyuban Pasundan, dan Sarekat Hijau. Sarekat Rayat yang dipimpin Ujang Kaih dan
diklaim binaan PKI tersebut pada akhirnya
menjadi ancaman bagi pemerintah dan kaum bangsawan Sumedang.
Suatu ketika, pengurus dan para anggota Sarekat Rakyat
mengajukan izin menggunakan Bioskop Pasifik untuk keperluan rapat intern
organisasi. Akan tetapi, permohonan tersebut ditolak pengurus bioskop karena
mereka tidak simpati terhadap radikalisme yang dikembangkan Sarekat Rakyat.
Tidak terima dengan penolakan itu, pengurus Sarekat Rakyat melarang para
anggotanya untuk menonton film yang diputar di bioskop itu. Sarekat Rakyat pun
menghalang-halangi masyarakat yang hendak menonton film dengan melempari dan
membuat keributan di sekitar Bioskop Pasifik.
Pengelola bioskop tak kalah akal. Supaya tidak sepi dari
penonton, pengelolanya kemudian
memberikan potongan harga tiket pertunjukan terutama bagi masyarakat Sumedang
yang menjadi anggota Sarekat Hijau. Promosi tersebut rupanya berhasil dengan
baik karena setiap pemutaran film selalu dipenuhi oleh penonton yang sebagian
besar berstatus sebagai anggota Sarekat Hijau.
Suatu ketika, karena ingin menonton film juga dengan
potongan harga karcis, sejumlah anggota Sarekat Rayat datang ke bioskop untuk
menonton. Tentu, mereka juga meminta potongan harga tiket seperti diberikan
kepada para anggota Sarekat Hijau.
Akan tetapi, pengelola bioskop menolak permintaan mereka dan
menjual tiket dengan harga normal. Penolakan tersebut memicu amarah para
anggota Sarekat Rakyat. Seketika, mereka melakukan penyerangan kepada pengurus
dan penjaga bioskop. Pengelola bioskop berusaha untuk melawan sambil berteriak
minta pertolongan. Teriakan itu didengar oleh orang-orang di sekitar bioskop
dan Pasar Sumedang, yang letaknya tidak jauh dari Bioskop Pasifik. Orang-orang
itu lantas menyerang balik anggota Sarekat Rakyat sehingga kejadian itu berubah
menjadi perkelahian massal.
Setelah sekian lama perkelahian massal tersebut berlangsung,
jumlah anggota Sareka Hijau yang terlibat semakin banyak. Akibatnya, anggota
Sarekat Rakyat mundur teratur dan perkelahian massal pun dapat dihentikan
seiring dengan datangnya polisi ke lokasi perkelahian.
Peristiwa itu pada akhirnya sampai ke meja Gubernur Jenderal
di Istana Bogor dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pejabat
Pemerintah Hindia Belanda. Setelah mempelajari peristiwa tersebut, pemerintah
mengambil tindakan tegas dengan memasukan Sarekat Rakyat ke dalam daftar
perkumpulan yang perlu diawasi gerak-geriknya karena dipandang mengancam
ketertiban umum. Sebaliknya, Sarekat Hijau dibiarkan berkembang karena
menunjukkan sikap kooperatif kepada pemerintah. (dari berbagai sumber)

0 Comments