Ngalaksa di Rancakalong Tanpa Kehadiran Orang “Bule”


Rancakalong – Tradisi Ngalaksa atawa upacara sebagai ungkapan rasa syukur petani Rancakalong atas kesuksesan dalam bertani, kembali digelar di Rancakalong, Sumedang. Sejatinya, upacara yang selalu diisi dengan kesenian tradisi khas Rancakalong Tarawangsa tersebut digelar Juli kemarin. Namun karena bulan tersebut umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa, pelaksanaannya akhirnya menjadi di pengujung Agustus ini.

“Ya, mestinya pelaksanaanya Juli kemarin. Namun karena berbenturan dengan puasa, akhirnya menjadi Agustus ini pelaksanaannya,” kata Didi, tokoh setempat kepada T-Zone.
Namun, kata dia, berbeda dari taun-taun sebelumnya, pelaksanaannya tidak sepekan. Untuk kali ini, pelaksanaanya hanya lima hari saja, yakni dari  tanggal 26 hingga 31 Agustus 2014. Namun demikian, berbagai hal penting terkait upacara tetap dilaksanakan yakni sejak mengolah padi hingga membuat laksa, semacam makanan yang terbuat dari beras.
“Termasuk yang tetap dilaksanakan adalah menabuh Tarawangsa siang dan malam selama lima hari berturut-turut,” ujarnya.
Terlepas dari tetap dipertahankannya berbagai ritual, Didi dalam pelaksanaan tradisi Ngalaksa taun ini mengaku sedikit kecewa. Ia menyebutkan, promosinya sekarang tidak begitu santer. Jangan heran jika pengunjung yang datang menyaksikan acara tahunan tersebit berkurang dari tahun sebelumnya.

“Yang paling kentara sekarang, hingga menjelang hari terakhir, belum ada turis asing atau bule yang datang. Tahun-tahun sebelumnya, turis merul berdatangan,” ujarnya. Melihat itu dia berharap, untuk pelaksanaan berikutnya, Pemkab Sumedang serius mempromosikan acara budaya tahunan tersebut. “Jangan seperti sekarang,” pungkasnya. (tz-1)

0 Comments

Arsip