JATIGEDE, HILANG. Sebanyak 21 bangunan SD dan SLTP dipastikan
akan “hilang” jika Bendung Jatigede mulai digenangi air. Sebanyak kurang lebih
3.150 siswa dan ratusan gurunya pun harus pindah, entah kemana, karena soal itu
belum dipikirkan oleh pemerintah, khususnya pemerintah pusat.
Hal itu, disampaikan Edi
Askhari, Wakil Ketua DPRD sekaligus Ketua Panitia Khusus (Pansus) Jatigede
kepada wartawan. “Salahsatu dampak dari pembangunan Bendung Jatigede adalah hilangnya fasilitas pendidikan,” kata
Edi.
Menurut Edi, di kawasan
genangan Jatigede, sekarang tercatat sebanyak 21 bangunan sekolah
meliputi bangunan SD, Madrasah Ibtidaiyah (MI), SLTP/MTs dan 5 TK. Jika
dikalkulasi, maka jumlah siswa di
sebanyak 21 sekolah tersebut, kurang lebih sebanyak 3.150 orang. Itu belum
termasuk ratusan gurunya.
Masalah lain yang timbul
menyusul hilangnya fasilitas pendidikan, adalah soal proses penggantian bangunan sekolah, agar ribuan anak
sekolah tersebut bisa tetap belajar. Ini masalah berat. “Proses relokasi ribuan
warga saja belum jelas, apalagi harus ditambah dengan masalah sekolah dan
pemindahan anak-anak sekolah?” kata Edi.
Dia juga menambahkan, proses
memindahkan anak sekolah itu hendaknya jangan hanya pindah, tetapi harus jelas
juga status administrasi sekolahnya. “Jangan sampai nanti malah dokumen
pendidikan anak-anak sekolah ini hilang sehingga masa depan penerus bangsa ini
menjadi tidak jelas," katanya.
Ahmad Dudung, seorang
warga Jatigede dan juga ayah dan dua anak di kawasan genangan, mengharapkan
Pemerintah Pusat segera memikirkan soal hilangnya fasilitas pendidikan
tersebut, jika Bendung Jatigede sudah digelontori air. “ Pemerintah harus bijak
dan jangan menganggap kecil masalah tersebut, apalagi ini
menyangkut nasib anak bangsa,” kata Dudung kepada T-Zone.
Kalau
tidak? “Kami sepakat untuk menggugat pemerintah jika masalah tersebut tidak diperhatikan pemerintah. Tapi
mari kita lihat saja,” tuturnya lagi. (TZone/Wandi)

0 Comments