Bila kita jalan-jalan ke Museum Pangeran Geusan Ulun, Sumedang,
dipastikan akan membaca sebuah figura besar bertuliskan Ditioeng
Memeh Hoedjan (DMH), di sebuah di sudut ruangan. Ada sebaris tulisan, di bawahnya, berisi
kegundahan hati dan harapan Pangeran Aria Suria Atmadja kepada warga Sumedang
atau lebih tepatnya, barangkali, untuk keluarga Kerajaan Sumedang Larang.Banyak yang menyangka, apa yang disebut DMH hanya berisi tulisan besar dalam figura tersebut. Sebenarnya, DMH, adalah berupa cerita panjang yang ditulis Pangeran Aria Suria Atmadja, menceritakan kedatangan Belanda di Hindia, sikap raja-raja pribumi yang ada di Nusantara terhadap rakyatnya dan keinginan Pangeran Aria Suria Atmadja untuk melatih para pemuda pribumi di Sumedang agar terampil menggunakan senjata.
Selain itu, berisi nasihat yang ditujukan kepada rakyatnya
dalam menyikapi adanya pembangunan yang dilakukan oleh Belanda di Sumedang,
serta tuturan Pangeran tentang kehidupan masyarakatnya pada masa
kepemimpinannya.
DMH, sebenarnya sebuah karya menarik dari seorang pemimpin
di Sumedang. DMH juga menunjukkan adanya tradisi menulis di lingkungan Kerajaan
Sumedang Larang. Banyak juga yang bisa dipetik dari DMH oleh generasi jaman now
di Sumedang.
Namun sayangnya, DMH kurang dikenal luas. Akibatnya, pemikiran
Pangeran Aria Suria Atmadja pun kurang familier.
Betulkah? Semoga saja salah dan generasi muda
Sumedang jangan hanya mengenali DMH sebagai “sajak” petuah dalam figura di museum semata. (*)
0 Comments