Misteriusnya Situs Batu Naga

Situs, Misterius. Sosok naga terukir pada batu menhir di Situs Batu Naga, puncak Bukit Pojoktiga, di sekitar Dusun Banjaran, Desa Jabranti, Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan, dinilai unik serta tak ada padanannya dengan simbol naga yang di negara-negara belahan dunia lainnya. Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia (Mari) yang juga dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FISIP) Universitas Indonesia (UI) Dr Ali Akbar, mengungkapkan hasil analisis sementaranya itu  di Dusun Banjaran, Minggu 5 Maret 2017 lalu.

"Tempo hari saya studi banding ke negara Tiongkok. Di museum arkelogi nasionalnya Tiongkok di Beijing serta di tempat-tempat lain yang saya kunjungi, banyak saya temukan simbol-simbol naga. Sebelumnya saya juga sempat berkunjung dan mengamati simbol-simbol naga di negara India dan beberapa negara di Eropa. Namun, sampai sekarang saya belum menemukan satu pun simbol naga serupa atau sepadan dengan sosok simbol naga yang ada di Situs Batu Naga di puncak bukit Pojoktiga sana," kata Ali Akbar, seraya menoleh ke arah puncak Bukit Pojoktiga.

Dia mengungkapkan, sosok simbol naga di India pada bagian kepalanya mengenakan mahkota disertai hiasan misalnya berupa anting-anting pada daun teliga. Kemudian simbol naga di Tiongkok umumnya naga berkaki empat, dan di Eropa selai berkaki juga bersayap.

"Sosok simbol naga di Situs Batu Naga di puncak bukit ini beda jauh. Polos saja tidak ada kaki, mahkota, dan sayap. Dugaan sementara sosok naga terukir pada batu menhir di Situs Batu Naga ini, melambangkan cikal bakal kehidupan manusia serta simbol kesuburan dan kemakmuran hidup masyarakat," katanya. Ia menyatakan, untuk mengungkap misteri Situs Batu Naga yang diperkirakan dibuat dan digunakan peradaban manusia antara 2.000 hingga 500 tahun sebelum masehi itu, Lembaga Swadaya Masyarakat Mari yang diketuainya akan terus melanjutkan langkah penelitian arkeologi terhadap situs tersebut.


Sementara itu, arkeolog yang sejak awal 2013 meneliti situs tersebut, Minggu 5 Maret 2017 kembali datang ke Dusun Banjaran. Pada kunjungnan kemarin, Ali Akbar tidak mendaki ke puncak bukit Pojoktiga, tetapi hanya menelusuri, mencari, dan mengamati bebatuan, serta kontur tanah di bawahan kaki Bukit Pojoktiga sekitar Dusun Banjaran, termasuk di seputar tanah lapang yang kini dijadikan lapangan sepak bola di atas permukiman dusun tersebut.

Dia menduga, dataran luas lapang sepak bola di dusun tersebut, di masa lalu merupakan tempat persinggahan atau tempat peristirahatan masyarakat pengunjung Situs Batu Naga. Dugaan Ali Akbar diperkuat juga keterangan Kepala Dusun Banjaran Rusdiana, dan sejumlah warga dusun yang menyatakan bahwa dataran luas yang dijadikan lapangan sepak bola itu merupakan dataran lapang bentukan alam. "Dulu sebelum dijadikan lapangan sepak bola, dataran tanah ini merupakan ladang pertanian penduduk, tetapi bentuk datarannya dulu pun seperti begini saja," ujar Rusdiana (dikutip dari PRLM)

0 Comments

Arsip